Aktivis hak asasi manusia asal Bojonegoro, Jawa Timur, itu mengaku berulang kali mengalami intimidasi, baik secara langsung maupun digital, saat mendampingi korban perdagangan orang, kekerasan, hingga pekerja migran yang terancam hukuman mati di luar negeri.
“Social media saya diserang orang-orang yang tidak dikenal dengan menjatuhkan saat saya mengangkat isu-isu privat, termasuk menyebut saya sebagai pekerja seks,” ujar Anis saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Senin (11/5/2026).
Baca Selengkapnya